Home > Diary, Know how > Kisah sepetak tanah

Kisah sepetak tanah

November 13th, 2009 Leave a comment Go to comments

Saya adalah sepetak tanah yang bertempat dikota besar yang dihimpit oleh gedung-gedung tinggi. Tidak banyak yang menempati saya kecuali rumput-rumput hijau serta ilalang yang tumbuh karena suka padaku, dan memang hanya pada dirikulah mereka bisa tersenyum bahagia, karena tidak ada tempat lain untuk tumbuh. Tanah disekitarku sudah hampir tertutup oleh adonan semen semua, sehingga hanya dirikulah yang saat ini bisa memberikan kehidupan kepada para pembuat oksigen ini ;) .

Ehm_caem00k2 Tuanku sendiri sudah lama meninggalkanku. meninggalkan untuk bersama rumah besarnya dikota lain. Letakku sebenarnya tidak terlalu strategis, tapi karena aku berada dikota, maka tiap hari banyak orang yang lewat disampingku. Berangkat bekerja, kuliyah, berdagang kepasar dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika tiang listrik yang tertancap padaku, banyak dipasangi poster dan banner kecil-kecil untuk promosi barang. Aku pernah bertanya pada tiang listrik tersebut, “Hey tiang listrik, kamu sekarang punya  dua profesi ya?, wah… makin laris dunk ;) ” , dan si tiang listrik menjawab, “Laris apanya, poster dan banner yang menempel padaku, mereka seperti tumbuhan liar yang mengotori tubuhku, dan itupun tidak ada yang memberi bayaran  :(   “.

Aku pun terdiam dan merenung. Benar juga kata tiang listrik. Selama ini tanah diperkotaan kalau ditinggal oleh yang punya, sering digunakan sebagai tempat membuang sampah. Jadi mana yang lebih baik?, apakah kotor karena banyak kertas banner dan poster yang sampai menutupi badanku atau bau sampah rumah tangga? :( .

Sebenarnya aku bisa laku ratusan juta atau bahkan milyaran permeter bila tuanku menjualku. dengan SHM nya, apalagi dengan daya tariku yang terletak ditempat yang strategis ini. tapi mungkin tuanku sudah senang dengan gelimangan harta yang telah dimilikinya. Tapi tuanku masih sayang padaku, ungkapan itu diwujudkan dengan memberiku papan yang terbuat dari kayu dan bertulis “Dilarang buang sampah dilokasi ini“. Sedikit lega rasanya, meski hanya sebuah papan yang tak berarti, tapi dengan papan itu aku bisa sedikit lega dari bau sampah yang dibuang padaku.

Ya dengan papan itu setidaknya masih bisa memberi tempat untuk rumput dan ilalang yang hijau, yang selama ini aku lihat mereka sering bersedih karena semua tanah disekitarku sudah ditutup dengan beton semen. Sehingga hanya padakulah mereka bisa sedikit memberi rasa sejuk udara sekitarku dari panasnya udara kota.**


Masukkan email anda untuk berlangganan artikel dari arifudin dot Net

  1. November 13th, 2009 at 05:07 | #1

    Kisah sepetak tanah masih lebih mujur, karena harga tanah nggak pernah menurun dan meski terlantar, suatu ketika bisa bangkit kembali…
    Yang lebih memprihatinkan adalah nasib fasilitas umum…
    Nggak krumat, banyak dijahili dll.
    Lebih ngeri lagi nasib spanduk dan baliho…
    Saat dipakai dipajang ditempat strategis, tapi setelah itu jadi sampah…

  2. November 13th, 2009 at 09:01 | #2

    alhamdulillah orang masih memperhatikan tulisan itu
    berbeda dengan pengalaman dalam perjalanan ziarah wali blogger ke gunug kelir beerapa bulan yang lalu, sudah jelas tertulis di larang buang sampah di sini tapi ironis di bawah tulisan itu banyak sampah yg berserakan

  3. November 13th, 2009 at 09:40 | #3

    dibutuhkan kesadaran ekstra untuk menjaga lingkungan dan sekitarnya,tak cukup hanya dengan papan tulisan kang :)

  4. November 13th, 2009 at 12:57 | #4

    besuk lagi, suruh satpam ajah buat njagain, jangan cuma plank kecil, ato tuannya yang biasa tidur di rumah mewah, berpindah tidur dan tinggal disitu
    he he he (kasian juga mpunya kalo suruh gitu)

  5. November 13th, 2009 at 14:45 | #5

    Kapan ya..
    sepetak tanah bisa memenuhi kebutuhan berbagai kehidupan yang berdiam di atasnya tanpa adanya papan seperti itu..?

  6. November 13th, 2009 at 16:09 | #6

    Mungkin ituh tanah sengketan.

  7. November 13th, 2009 at 16:21 | #7

    nice story, buat ngingetin kita kembali biar gak buang sampah sembarangan meski di tempat tak berpenghuni^^

  8. November 13th, 2009 at 19:09 | #8

    gak ikut bikin.., tinggal ngerawat aja kok gak mau… (doh)

  9. November 14th, 2009 at 05:22 | #9

    saya ini newbie..lagi belajar thank ya
    Nice Posting!!!! Good artikel, Thank you Friend~~~~ ~Good Luck~

  10. November 14th, 2009 at 10:25 | #10

    cerita yang mnarik
    kasihan juga tuh rumah jadi terbelengkalai
    sekarang mungkin penghuninya adalah maluk goid

  11. November 14th, 2009 at 10:26 | #11

    gpp deh, selama masi ada si tiang listrik
    dia masi ada teman, yang penting ga dijadiin tempat yang ga bener

  12. November 15th, 2009 at 01:54 | #12

    dulu, masyarakat tradisi menganggap tanah sbg bagian dari identitas mereka. menjual tanah sm g kehilangan identitas. sayangnya, sekarang orang modern menganggap tanah hanya sbg komditas ekonomi.

  13. November 15th, 2009 at 16:58 | #13

    semoga banyak yang mengerti dan merespon dengan tulisan yang ada pada papan itu

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.
  1. No trackbacks yet.