Kisah sepetak tanah

Saya adalah sepetak tanah yang bertempat dikota besar yang dihimpit oleh gedung-gedung tinggi. Tidak banyak yang menempati saya kecuali rumput-rumput hijau serta ilalang yang tumbuh karena suka padaku, dan memang hanya pada dirikulah mereka bisa tersenyum bahagia, karena tidak ada tempat lain untuk tumbuh. Tanah disekitarku sudah hampir tertutup oleh adonan semen semua, sehingga hanya dirikulah yang saat ini bisa memberikan kehidupan kepada para pembuat oksigen ini 😉 .

Ehm_caem00k2 Tuanku sendiri sudah lama meninggalkanku. meninggalkan untuk bersama rumah besarnya dikota lain. Letakku sebenarnya tidak terlalu strategis, tapi karena aku berada dikota, maka tiap hari banyak orang yang lewat disampingku. Berangkat bekerja, kuliyah, berdagang kepasar dan lain-lain. Sehingga tidak heran jika tiang listrik yang tertancap padaku, banyak dipasangi poster dan banner kecil-kecil untuk promosi barang. Aku pernah bertanya pada tiang listrik tersebut, “Hey tiang listrik, kamu sekarang punya  dua profesi ya?, wah… makin laris dunk 😉 ” , dan si tiang listrik menjawab, “Laris apanya, poster dan banner yang menempel padaku, mereka seperti tumbuhan liar yang mengotori tubuhku, dan itupun tidak ada yang memberi bayaran  :(  “.

Aku pun terdiam dan merenung. Benar juga kata tiang listrik. Selama ini tanah diperkotaan kalau ditinggal oleh yang punya, sering digunakan sebagai tempat membuang sampah. Jadi mana yang lebih baik?, apakah kotor karena banyak kertas banner dan poster yang sampai menutupi badanku atau bau sampah rumah tangga? :( .

Sebenarnya aku bisa laku ratusan juta atau bahkan milyaran permeter bila tuanku menjualku. dengan SHM nya, apalagi dengan daya tariku yang terletak ditempat yang strategis ini. tapi mungkin tuanku sudah senang dengan gelimangan harta yang telah dimilikinya. Tapi tuanku masih sayang padaku, ungkapan itu diwujudkan dengan memberiku papan yang terbuat dari kayu dan bertulis “Dilarang buang sampah dilokasi ini“. Sedikit lega rasanya, meski hanya sebuah papan yang tak berarti, tapi dengan papan itu aku bisa sedikit lega dari bau sampah yang dibuang padaku.

Ya dengan papan itu setidaknya masih bisa memberi tempat untuk rumput dan ilalang yang hijau, yang selama ini aku lihat mereka sering bersedih karena semua tanah disekitarku sudah ditutup dengan beton semen. Sehingga hanya padakulah mereka bisa sedikit memberi rasa sejuk udara sekitarku dari panasnya udara kota.**

13 thoughts on “Kisah sepetak tanah”

  1. Kisah sepetak tanah masih lebih mujur, karena harga tanah nggak pernah menurun dan meski terlantar, suatu ketika bisa bangkit kembali…
    Yang lebih memprihatinkan adalah nasib fasilitas umum…
    Nggak krumat, banyak dijahili dll.
    Lebih ngeri lagi nasib spanduk dan baliho…
    Saat dipakai dipajang ditempat strategis, tapi setelah itu jadi sampah…

  2. alhamdulillah orang masih memperhatikan tulisan itu
    berbeda dengan pengalaman dalam perjalanan ziarah wali blogger ke gunug kelir beerapa bulan yang lalu, sudah jelas tertulis di larang buang sampah di sini tapi ironis di bawah tulisan itu banyak sampah yg berserakan

  3. dulu, masyarakat tradisi menganggap tanah sbg bagian dari identitas mereka. menjual tanah sm g kehilangan identitas. sayangnya, sekarang orang modern menganggap tanah hanya sbg komditas ekonomi.

Leave a Reply