Legenda Gunung Bayangkaki dan asal mula petilasan kumbul di Desa Sawoo
Cerita ini adalah cerita asal-usul gunung bayangkaki dan petilasan Kumbul yang ada di kecamatan Sawoo Ponorogo yang saya kutip dari sebuah buku yang berjudul “Mengenal Potensi dan Dinamika Ponorogo” 1993, dan gambar saya ambil dari google earth yang tampak dari atas. Semoga cerita ini dapat menambah wawasan kita tentang sejarah asal-usul suatu daerah dan tempat. Selamat membaca.”
Alkisah, seorang pengembara bernama Eyang Kalipo Kusumo dari keraton Kartasura mengadakan perjalanan ke wilayah timur, disertai beberapa orang pengikutnya. Setelah beberapa saat mengembara di wilayah timur, beliau timbul hasrat untu melaksanakan semedi di wilayah pegunungan. Dari sekian banyak gunung yang berada di wilayah timur, Eyang Kalipo Kusumo tertarik dengan sebentuk gunung yang agak aneh. Yakni, bentuknya selalu jika dilihat dari sudut pandang yang berlainan. Maka berangkatlah Eyang Kalipo Kusumo bersama pengikutnya ke gunung tersebut.
Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.

Gunung bayangkaki tampak dari atas
Setelah beristirahat sejenak, Kalipo Kusumo meneruskan perjalanan mendaki gunung. Namun belum sampai tujuan, beliau tidak kuat lagi berjalan. Oleh ketiga pengikutnya, yakni Hadi Ronggo, Hadi Mulyo dan Hadi Dumeling, Kalipo Kusumo pun dibayang (digotong) menuju ke sebuah gua dilereng gunung. Di gua itulah Kalipo Kusumo melaksanakan semedinya, dan sekaligus menghabiskan sisa umurnya. Pada ketiga orang pengikutnya, Kalipo Kusumo berpesan, agar kelak dimakamkan di puncak gunung tersebut. Ketika kalipo Kusumo wafat, ketiga orang pengikutnya lalu menuruti wasiat terakhir gurunya. Perjalanan membawa jenazah Kalipo Kusumo itu cukup berat. Dengan kondisi jalan setapak dan lereng yang terjal, mereka membawa jenazah dengan cara dibayang antara kakai dan kepala jenazah. Dan peristiwa tersebut gunung itu kemudian diberi nama GUNUNG BAYANGKAKI.
Sedangkan petilasan Sunan kumbul yang terdapat di desa Sawoo bermula dari huru-hara di Keraton Kartasura. Penguasa Kaerasura pada waktu itu, Eyang Suseno merasa terpojok karena tak mampu mengembalikan hutang pada bangsa Cina. Suseno mempunyai kebiasaan yang buruk, yakni gemar menghisap candu yang diperolehnya dengan cara hutang kepada bangsa Cina. Makin lama hutang itu makin membengkak. Bahkan bangsa Cina menuntut sebagian tanah keraton untuk pengembalian hutang.
Dalam keadaan terdesak, Suseno melarikan diri kearah timur untuk mencari saudaranya, Kalipo Kusumo, yang sedang pergi mengembara. Singkat cerita kedua orang bersaudara itu bertemu digoa tempta pertapaan Kalipo Kusumo. Dalam pertemuan itu Suseno menceritakan semua persoalannya, bahkan mengharap agar Kalipo Kusumo segera pulang ke Kartasura, menggantikan kedudukannya sebagai raja. Namun Kalipo Kusumo tidak bersedia menuruti permintaan Suseno sebab ia merasa hanya putra dari ibu selir. Untuk menolong saudaranya, Kalipo Kusumo pun menyuruh Suseno bertapa di bawah pohon besar sebelah barat daya gunung itu.
Ternyata pohon besar yang dimaksud itu adalah pohon sawo. Oleh Suseno, tempat bertapa itu kemudian diberi nama Sawo, yang kini dikenal DESA SAWOO.
Maka mulailah penguasa Kartasura itu bertapa di bawah pohon sawo besar itu. Setelah beberapa waktu lamanya bertapa, permohonan Suseno terkabul. Keanehan lain terjadi, tempat yang diduduki Suseno untuk bersemedi, ternyata tanahnya timbul ke permukaan (numbul, bahasa jawa). Sejak itu Suseno mendapat julukan sunan Kumbul, sedangkan bekas tempat semedinya dinamakan Petilasan Sunan Kumbul.**








:pray: sejarah yang memukau..sekarang ini sangat jarang sekali orang2 yang mau mempelajari sejarah seperti ini.. JOSS TNAN Kang..!!
jaman SMP saya pernah hiking di sana. stikernya juga masih nempel di pintu kamar
kok gak pernah baca di buku sejarah aq….
Sekitar 15 tahun yang lalu, Gunung Bhayangkaki adalah wilayah harianku dalam rangka “golek manuk”
ternyata gitu to, kisahnya..
Sejarah yang berbau spriritual dulu nih, sep2… suka aku.
:ngelamun: ooo baru tahu saya gan kalau ada gunung bayang kaki. salam kenal gan
wah keren euy
sejarah yang terlupakan
baru ngerti ceritanya, sejarah yang terabadikan,dlm sebuah postingan.:tob:
sejarah memaang selalu menarik menurutku :hore:
Wooo..gitu toh sejarah nya….mantap nih Mas..kalo ada sejarah perang dong biar lebih seru..heheheh :evillaugh:
apik kang…..
lanjutkan
wuih…., dapet pelajaran sejarah juja di sini…:ngelamun:
baru tau nih
kapan2 maen kesana
mantap OM
sejarah jarang orang yg mau mempelajarinya
Bayangkaki, belum pernah kesana…
:mlorok:
casual cutie baru tau sejarahnya. baru tau juga ada gunung yang namanya bayangkaki. casual cutie blm pernah kesana
Berarti memang benar tiap gunung, danau, desa, pasti ada sejarahnya, even katanya legenda… tp bisa jadi benar
kalau sampeyan ke sana, saya ikut ya kang.. hehehe…
wah2…. q tonggone mbayangkaki tapi ra ngerti sejarahe…..