Archive

Posts Tagged ‘bayangkaki’

Legenda Gunung Bayangkaki dan asal mula petilasan kumbul di Desa Sawoo

April 17th, 2009 29 comments

Cerita ini adalah cerita asal-usul gunung bayangkaki dan petilasan Kumbul yang ada di kecamatan Sawoo Ponorogo yang saya kutip dari sebuah buku yang berjudul  “Mengenal Potensi dan Dinamika Ponorogo” 1993, dan gambar saya ambil dari google earth yang tampak dari atas. Semoga cerita ini dapat menambah wawasan kita tentang sejarah asal-usul suatu daerah dan tempat. Selamat membaca.”

Alkisah, seorang pengembara bernama Eyang Kalipo Kusumo dari keraton Kartasura mengadakan perjalanan ke wilayah timur, disertai beberapa orang pengikutnya. Setelah beberapa saat mengembara di wilayah timur, beliau timbul hasrat untu melaksanakan semedi di wilayah pegunungan. Dari sekian banyak gunung yang berada di wilayah timur, Eyang Kalipo Kusumo tertarik dengan sebentuk gunung yang agak aneh. Yakni, bentuknya selalu jika dilihat dari sudut pandang yang berlainan. Maka berangkatlah Eyang Kalipo Kusumo bersama pengikutnya ke gunung tersebut.

Di suatu tempat, Kalipo Kusumo beristirahat. Sesekali lagi beliau memandang gunung itu, namun kali ini dengan pandangan yang tajam (mandeng, bahasa jawa). Dari peristiwa tersebut, tempat beristirahat itu kemudian diberi nama Ngindeng, yang kini dikenal dengan nama DESA NGINDENG.

Gunung bayangkaki tampak dari atas

Gunung bayangkaki tampak dari atas

Setelah beristirahat sejenak, Kalipo Kusumo meneruskan perjalanan mendaki gunung. Namun belum sampai tujuan, beliau tidak kuat lagi berjalan. Oleh ketiga pengikutnya, yakni Hadi Ronggo, Hadi Mulyo dan Hadi Dumeling, Kalipo Kusumo pun dibayang (digotong) menuju ke sebuah gua dilereng gunung. Di gua itulah Kalipo Kusumo melaksanakan semedinya, dan sekaligus menghabiskan sisa umurnya. Pada ketiga orang pengikutnya, Kalipo Kusumo berpesan, agar kelak dimakamkan di puncak gunung tersebut. Ketika kalipo Kusumo wafat, ketiga orang pengikutnya lalu menuruti wasiat terakhir gurunya. Perjalanan membawa jenazah Kalipo Kusumo itu cukup berat. Dengan kondisi jalan setapak dan lereng yang terjal, mereka membawa jenazah dengan cara dibayang antara kakai dan kepala jenazah. Dan peristiwa tersebut gunung itu kemudian diberi nama GUNUNG BAYANGKAKI.

Read more…