Tinjauan kesenian reyog Ponorogo dengan peralatannya

Setelah kemarin saya membahas tinjauan kesenian reyog Ponorogo dengan aspek historisnya, maka dalam postingan kali ini akan membahas aspek kesenian reyog dengan peralatannya.
reogpentul
Telah terbukti bahwa kesenian merupakan media komonikasi yang efektif untuk menyampaikan suatu pesan dalam pengembangan agama Islam, Sunan Kali Jaga memanfaatkan kesenian wayang purwa sebagai wadah sarana dakwah. Dengan bentuk dialog para tokoh wayang, kaidah-kaidah Islami telah dapat di terima dengan tulus oleh masyarakat yang saat itu banyak yang memeluk agama Hindu dan Budha. Demikian pula peralatannya, seperti gamelan laras slendro mempunyai wilahan dengan nada : 1, 2, 3, 5, 6. Apabila dijumlah ada 17. Ini mengingatkan kita bahwa shalat wajib ada 17 rakaat.

Gamelan jawa terdiri dari beberapa rincian yang masing-masing mengandung makna :

  1. Bonang dan Kenong, memiliki suara yang hampir sama yaitu : nang, ning, nong, nung. Nang berarti ana (ana), ning berarti bening (jernih), nong berarti plong (mengerti) dan nung berarti dumunung (sadar). maksudnya setelah manusia ada lalu berfikir dengan hati yang bening maka dapat mengerti sehingga dumunung (sadar) bahwa keberadaannya tentu ada yang menciptakannya yaitu Sang Maha Pencipta (Alloh)
  2. Kethuk bunyinya thuk, artinya matuk (setuju, cocok).
  3. Kendang, yang mengendalikan irama cepat atau lambat. Bunyinya dang, dang, dang. Ndang artinya segeralah, berati manusia segera beribadah kepada Alloh SWT.
  4. Kempul, artinya kumpul (berkumpul) atau berjamaah. Setelah ditabuh sekali, dua kali, tiga kali disusul bunyi gong. Semua amal ibadah kita ditunjukan kepada yang Maha Agung.
  5. Saron, Demung, Slentem sebagai pemaku lagi memiliki tugas baku sebagai saka guru bermakna iman yang kuat.
  6. Gender, Gembang, Siter merupakan pemangku Yatmaka, maksudnya jiwa yang sempurna.
  7. Rebab dari kata adab, yaitu hawa yang keluar dari mulut maksudnyanafsu pernafasan atau hawa nafsu. Manusia harus dapat mengendalikan hawa nafsunya.
  8. Suling artinya eling (ingat). Ingat kepada yang menjadikan hidup. Ingat bahwa hidup didunia tidaklah lama, Ingat bahwa ada kehidupan yang kekal dan bahagia hanya dapat dicapai dengan amal ibadah sebanyak-banyaknya.
  9. Gong, yang dibunyikan terakhir berarti selesai, bunyinya gung artinya yang Maha Agung.

Bupati Ponorogo yang pertama yaitu Batoro Katong memanfaatkan alat kesenia sebagai media da’wah.

  • Reyog asal kata Riyoqun (bermakna khusnul khotimah) yang berarti walaupun seluruh perjalanan hidup manusia dilumuri dengan berbagai dosa dan noda, bilamana sadar dan beriman yang pada akhirnya bertaqwa pada Tuhan YME maka jaminannya adalah sebagai manusia yang sempurna, baik dan muslim sejati.
  • Kendang (dari bahasa arab:Qodo’a=rem), artinya segala sesuatu angkara murka harus terkendali.
  • Ketipung (dari bahasa arab katifun=balasan), artinya bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang dipertanggung jawabkan sendiri.
  • Kenong (dari bahasa arab: Qona’a=menerima takdir), segala usaha maksimal bila tidak berhasil harus diterima sebagai kenyataan.
  • Kethuk (dari bahasa arab: khotok=banyak salah), manusia tempat salah dan lupa.
  • Kempul (dari bahasa arab : kafulun=pembalasan/imbalan), artinya menerima balasan setiap yang baik dan buruk.
  • Trompet (dari bahasa arab : shuwarun=peringatan), artinya sebagai peringatan bahwa besok ada hari kebangkitan (yaumul akhir).
  • Angklung (dari bahasa arab : anqul=peralihan), artinya pindahkan dari hal yang buruk menjadi baik.
  • Udeng (dari bahasa arab : ud’u=mengajak/menganjurkan), artinya diwajibkan berdo’a dan berda’wah.
  • Penadon (dari bahasa arab : fanadun=lemah), artinya setiap manusia memiliki kelemahan dan kekurangan.
  • Usus/kolor (dari bahasa arab : ushusun=hablun/tali/ikatan), artinya manusia wajib berpegang pada tali Alloh dalam hubungan vertikal kepada Alloh YME dan kepada sesama manusia/makhluk secara horisontal.

Hal-hal tersebut di muka Batori Katong ditamsilkan sebagai tetengger dan perinagatan bagi mereka yang lupa diti untuk mencari jati dirinya di dalam berbakti kepada Tuhan YME dan sesama manusia.

Referensi : “Pedoman dasar kesenian reyog Ponorogo dalam pentas budaya bangsa”, 1993.

Sumber gambar

15 thoughts on “Tinjauan kesenian reyog Ponorogo dengan peralatannya”

Leave a Reply